Tampilkan postingan dengan label kdm. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kdm. Tampilkan semua postingan

Kamis, Januari 15, 2009

prosedur irigasi teLinga

0 komentar
Prosedur Irigasi Telinga

Tujuan : membersihkan liang telinga luar dari nanah, serumen, dan benda
– benda asing.

Prosedur pelaksanaan :
Alat dan bahan :
1. Baki berisi alat – alat yang steril :
a. Mangkok kecil berisi cairan dengan suhu 37o c.
b. Semprit telinga.
c. Pinset telinga.
d. Corong telinga.
e. Pemilin telinga.
f. Pengail telinga.



2. Baki berisi alat – alat yang tidak steril :
a. Bengkok 1 buah.
b. Perlak dan alasnya.
c. Lampu spiritus.
d. Lampu kepala.
e. Kapas dalam tempatnya.
3. Ember kotoran.

Cara kerja :
1. Beritahu tindakan apa yang akan dilakukan kepada klien.
2. Klien diberitahu dalam posisi duduk. Bila klien adalah anak kecil, harus di pangku sambil dipegang kepalanya.
3. Perlak dan alasnya dipasang pada bahu dibawah telinga yang akan dibersihkan.
4. Pasang lampu kepala.
5. Perawat cuci tangan.
6. Bersihkan kotoran telinga dengan kapas, memakai pemilin kapas yang telah di flamber terlebih dahulu.
7. Berikan bengkok pada pasien dan minta kerjasama pasien untuk memegang bengkok dengan posisi di bawah telinga.
8. Hisaplah cairan dengan menggunakan semprit dan keluarkan udara dari semprit.
9. Tariklah daun telinga klien ke atas kemudian ke belakang dan dengan tangan yang lain perawat memancarkan cairan ke dinding atas dari liang telinga. (Penyemprotan cairan harus perlahan – lahan dan tepat ditujukan ke dinding atas liang telinga.)
10. Jika sudah bersih, keringkan daun telinga dengan kapas yang telah dipilin dan di flamber.
11. Lihat atau periksa kembali liang telinga klien apakah sudah bersih atau belum dengan menggunakan corong telinga.
12. Perawat cuci tangan.
13. Bersihkan alat – alat.
14. Tulis hasil dalam catatan keperawatan.
a. Macam cairan dan suhu
b. Warna dan banyaknya cairan yang keluar.
c. Keadaan umum klien.

Bahaya :
a. Infeksi
b. Pecahnya gendang telinga.

Kontra indikasi :
a. Sesudah operasi.
b. Bila ada pendarahan pada telinga.

Perhatian !!
Apabila perawatan ini tidak berhasil, misalnya karena serumen keras dan besar, laporkan pada dokter. Biasanya akan diberikan obat tetes telinga. Kemudian setelah 3 hari perawatan irigasi diulang kembali.


Obat – obat yang berhubungan dengan irigasi telinga :
1. Obat – obat ototoksik
a. Diuretic :
- Asam etakrinik
- Furosemid
- Asetazolamid
b. Obat kemoterapi :
- Sisplatin
- Nitrogen mustard
c. Antimalaria :
- Quinine
- Kloroquin
d. Obat anti – imflamasi :
- Salisilat (aspirin)
- Indometasin
e. Bahan kimia :
- Alcohol
- Arsenic
f. Antibiotika Aminoglikosida :
- Amikasin
- Gentamisin
- Kanamisin
- Netilmisin
- Neomisin
- Streptomisin
- Tobramisin
g. Antibiotika lain :
- Eritromisin
- Mikrosiklin
- Polimiksin
- Vankomisin
h. Logam berat :
- Emas, Air raksa, timbale.

Jumat, Januari 02, 2009

PendidiKan sekS pada anak

0 komentar
PENDIDIKAN SEX PADA ANAK
BY HERLINA, S.kep

1. Bayi ( usia 0-12 bulan)
Kebutuhan seksual :
Megeneralisasikan sensasi tubuh yang menyenangkan. Meskipun berfokus pada kebutuhan oral, bayi mendapatkan kesenangan fisik digendong, ditimang, diayun & menghisap.

Tugas Orang tua :
• Memenuhi kebutuhan sensasi per oral ( ASI )
• Memberikan stimulasi taktil
2. Todler ( usia 1-3 th )
Kebutuhan seksual : Sensasi menyenangkan berhubungan dengan fungsi ekskretori, anak mengeksplorasi tubuh secara aktif.

Peran orang tua : Membantu anak mencapai kontinensia tanpa kontrol yang terlalu ketat atau overpermissive


3. Pra Sekekolah ( 3-6 tahun).
Fokus tubuh : genital
Tugas perkembangan : peningkatan kesadaran akan organ seks dan minatnya dalam seksualitas.
Krisis perkembangan :
• Oedipus & elektra kompleks.
• Ketakutan gangguan tubuh.
• Prasarat identitas laki-laki dan perempuan dari orang tua jenis kelamin sama
 Usia 5 tahun
• Permainan seks Kurang
• Anak sopan
• Tampak kurang terbuka
• Tertarik darimana datangnya bayi
• Menyadari organ seks pada orang dewasa
 Usia 6 tahun
• Permainan seks ringan, dengan peningkatan ekshibionisme
• Investigasi seks mutual
4. Anak Usia Sekolah ( 6-12 Tahun)
Tugas perkembangan: Integrasi dari pengalaman dan reaksi seksual yang lalu.
Krisis perkembangan : makin banyak laporan tentang masalah seksual praremaja , yang dimulai ssaat kira-kira berusia 10 tahun.

Peran orang tua: Peran utama dalam pendidikan anak tentang aturan dan norma yang mengatur perilaku seksual dan seksualitas dan dalama mempemngaruhi perilaku spesifik umur.

Karakteristik spesifik umur
 Umur 7 tahun :
• Minat untuk seks menurun dan kurang eksplorasi
• Perhatian kepada lawan jenis meningkat dimulai dengan perasaan “cinta” anak laki-laki perempuan
 Usia 8 tahun
• Perhatian seksual tinggi
• Peningkatan kegiatan seperti mengintip
• Menceritakan lelucon cabul
• Ingin menambah informasi seksual tentang kelahiran dan hubungan seksual
• Pada anak perempuan: peningkatan perhatian terhadap menstruasi.
 Umur 9 tahun:
• Peningkatan diskusi dengan teman sebaya tentang topik seksual
• Memisahkan jenis kelamin dalam aktifitas permainan
• Menghubungkan diri dengan proses reproduksi
• Kesadaran diri tentang perlindungan seksual
• Minat berkencan dan berhubungan dengan lawan jenis pada sejumlah anak
 Umur 10 tahun
• Minat pada tubuh dan penampilan diri meningkat
• Banyak anak mulai berkencan dan berhubungan dengan lawan jenis dalam aktifitas kelompok dan pasangan.
 Umur 11-13 tahun
• Khawatir tentang penampilannya
• Tekanan sosial agar tampak langsing dan menarik merupakan sumber stress
• Gambaran keliru tentang hubungan seks dan kehamilan banyak terdapat pada anak-anak
5. Remaja
• Aktifitas fisik berat, Permainan cenderung dimainkan dengan pengelompokan jenis kelamin
• Timbul hubungan hetroseksual, meletakan dasar bagi hubungan intim jangka panjang
• Terbentuk persahabatan yang kuat dan akrab
• Memakai fantasi untuk membayangkan pertemuan dan hubungan seksual Mempertinggi seksualitas dengan berfokus pada aktifitas stereotipiklaki-laki dan perempuan seperti mengebut dengan mobil, memakai pakaian”seksi”, angkat beban.
• Novel percintaan menjadi populer di remaja putri.
• Aktifitas belanja dan berlama-lama di mall meningkat.

Peran orang tua : Dapat timbul konflik dengan orangtua, terutama sehubungan dengan kebutuhan remaja akan kebebasan. Orang tua berpengaruh, secara sadar maupun tidak sadar dalam adaptasi dan penggunaan nilai-nilai serta kepercayaan dalam membuat keputusan.


Konsep TumbuH KembAng anak

0 komentar
KONSEP TUMBUH KEMBANG ANAK
BY HERLINA, S.Kep

Interaksi dimensi
• Tumbuh : peningkatan jumlah dan ukuran sel
• Perkembangan : perubahan dan perluasan secara bertahap
• Maturasi : Peningkatan kompetensi dan adaptasi
• Differensiasi : sel-sel sec sistematis membentuk tugas dan karakteristik fisikal, kemikal sec spesifik

Pola-pola Tumbang
1. directional trend
• Cephalocaudal (head to tail)
• Proxcimo distal (near to far)
• diferentiation
2. Sequential trends
• Tahap-tahap dapat diprediksi
3. Developmental phase
• Lefel tahap-tahap pertumbuhan sebelum dan sesusah lahir
4. Periode sensitive



Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbang :
1. Biologis :
 Genetik
 Hormon
 Kimia
 Maturasi
 Teratogen
2. Psikologis : kasih sayang dan kesatuan
 Kepercayaan dasar
 Frekuensi ibu mendengar anak
3. Faktor sosial : sistem keluarga dan model ekologi

Periode pertumbuhan – Usia
 Prenatal periode
 Infancy periode
 Early childhood
 Midle childhood
 Later childhood

Tahap – tahap pertumbuhan
 Usia 4-7 bln BB 2 X BBL
 Usia 12 Bln BB 3 x BBl
 Usia 2.5 th BB 4x BBL
 Pra sekolah BB bertambah 2-3 kg/th
 Sekolah BB bertambah 2-3 Kg/th
 Remaja perempuan BB b+ 7-25 Kg
 Remaja laki-laki BB b+ 7-30 Kg
 < 6 bln TB bertambah 2.5 cm
 6-12bl B+ 1.25 cm (50%PBL)
 Tahun kedua bertambah 12 cm. Perkiraan TB adult 2 x Tb pada usia 2 thn
 Tahun ketiga bertambah 6-8 cm
 Pada usia 13 tahun = 3 x panjang lahir

Intelektual
 Sensori motor ( lahir – 2 th )
reflek primer
 Pre operational (2-7th)
• Konsep waktu
• Perspektif egosentris
• Representatif moral thd objek dan orang
 Concrete operational ( 7 – 11 th )
• Abstrak & simbolik
• Alternatif pemecahan
• dapat melacak urutan kejadian kembali ke awal
• Konsep dulu, sekarang, yang akan datang
• Konsep tinggi, volume, berat
 Formal operational ( 11 – 15 th )
• Mempertimbangkan pandangan lain
• Berpikir tdk dibatasi kadaan aktual
• Orientasi altruistik (kejujuran & keadilan)
• Sistem nilai sendiri
• Kesimpulan deduktif & induktif

Psikososial
 Trust VS Mistrust (lahir – 1 th)
• Interaksi pemberi asuhan
 Autonomi VS Shame and Doub ( 1-3th)
• Tugas perkembangan: belajar asertif
• Ortu- agen pensosialisasi peran dasarnkonduksi
 Initiative VS Guilt (3-6th)
• Perkembangan hati nurani
• Peran or-tu – supervisi & pengarahan
 Insdustry VS Inferiority ( 6-12 th )
• Tugas perkembangan – mengembangkan rasa adekuat terhadap kemampuan dan kompetensi pd saat ada kesempatan
• Krisis perkembangan – rasa tdk percaya diri
• Peran ortu – figur kurang bermakna, grup lebih dominan
 Identity and repusition VS Confusition (12-18th)
• Tugas perkembangan- keyakinan unik diri sendiri
• Krisis- difusi peran
• Peran ortu – dapat konflik

Psikoseksual
 Oral-sensori ( lahir – 1 thn )
• Berfokus pada tubuh – mulut,
• tugas perkembangan – gratifikasi kebutuhan dasar(mak,kehangatan, kenyamanan )
• Ketrampilan koping umum : mengisap, menangis,dll sbg resdpon iritan
• Kebut seksual: menggenaralisasi sensasi tubuh
• Bermain – sdtimulasdi taktil
• Krisis perkembangan- penyapihan
 Anal – Uretral ( 1 – 3 th )
• Fokus tubuh – area anal
• Tugas perembangan – mengatur defekasi dan urinasi
• Krisis perkembangan – toilet training
• Kebutuhan seksual – sensasi menyenangkan fungsi ekretori
• Bermain - sering bermain dengan eksreta (feses)
• Peran ortu – membantu kontinensia tanpa kontrol ketat
 Phalic – Locomotion ( 3 – 6 th)
• Fokus tubuh- genital
• Tugas perkembangan – kesadaran organ dan minat seks
• Bermain peran
 Latency ( 6-12 th )
• Fokus tubuh – masalah seksual mjd < disadari
• Tugas perkembangan – integrasi pengalaman dan reaksi seksual masa lalu
• Krisis perembangan – mshl seksual
• Peran or-tu pendidikan aturan dan norma
 Genetaly (12 – 18 th)

Kepribadian
Perkembangan moral dimulai pada usiatodler
 Preconventional
 Konsep tentang benar –salah terbatas
 Anak menirukan sikap dan praktek keagamaan
 Convensional (usia sekolah)
 Pengertian moralitas anak ditentukan oleh aturan dan tata tertib dari luar
 Hubungan dan kontak dengan figur otoritas mempengaruhi bwnar – salah
 Pengertian benar – salah anak ketat dan kaku
 Pasca convensional
 Tidak secara universal dicapai oleh remaja
 dapat menerapkan ideal diri pada keadaan moral yang sulit
 Latency ( 6-12 th )
 Anak pra sekolah melihat aturan sebagai hal yang kaku
 Konsekuensi negatif dilihat sebagai hukuman kelakuan buruk
 Orang tua dilihat sebagai otoritas tertinggi untuk menetapkan benar-salah
 Mulai mendalami pengertian benar-salah
 Genetaly (12 – 18 th

ASkeP paDA Bayi PrematUr

1 komentar
Asuhan Keperawatan Pada BBLR
By. Herlina, S.Kep

Definisi
BBLR adalah bayi baru lahir dengan BB 2500 gram/ lebih rendah (WHO 1961)
Prematuritas murni: Masa Gestasi kurang dari 37 minggu dan Bbnya sesuai dengan masa gestasi.
Dismaturitas: BB bayi yang kurang dari BB seharusnya, tidak sesuai dengan masa gestasinya.

Gejala Klinis
• BB
• Pb
• Lingkar dada
• Lingkar kepala



Pem. Penunjang
• Analisa gas darah
• Komplikasi
• RDS
• Aspiksia

FAKTOR PENYEBAB
• Faktor ibu
• Faktor penyakit (toksemia gravidarum, trauma fisik dll)
• Faktor usia
• Keadaan sosial
• Faktor janin
• Hydroamnion
• Kehamilan multiple/ganda
• Kelainan kromosom
• Faktor Lingkungan
• Tempat tinggal didataran tinggi
• Radiasi
• Zat-zat beracun

Penatalaksanaan medis :
Pemberian vitamin K dan Pemberian O2

Pengkajian
Tanda-tanda anatomis
a. Kulit keriput, tipis, penuh lanugo pada dahi, pelipis, telinga dan lengan, lemak jaringan sedikit (tipis).
b. Kuku jari tangan dan kaki belum mencapai ujung jari
c. Pada bayi laki-laki testis belum turun.
d. Pada bayi perempuan labia mayora lebih menonjol

Tanda fisiologis
a. Gerakan bayi pasif dan tangis hanya merintih, walaupun lapar bayi tidak menangis, bayi lebih banyak tidur dan lebih malas.
b. Suhu tubuh mudah untuk menjadi hipotermi.
Penyebabnya adalah :
a) Pusat pengatur panas belum berfungsi dengan sempurna.
b) Kurangnya lemak pada jaringan subcutan akibatnya mempercepat terjadinya perubahan suhu.
c) Kurangnya mobilisasi sehingga produksi panas berkurang.

Diagnosa Keperawatan
1. Tidak efektifnya pola nafas b.d imaturitas fungsi paru dan neuromuskuler
2. Tidak efektifnya termoregulasi b.d imaturitas control dan pengatur suhu tubuh dan berkurangnya lemak sub cutan didalam tubuh.
3. Resiko infeksi b.d defisiensi pertahanan tubuh (imunologi).
4. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d ketidakmampuan tubuh dalam mencerna nutrisi (imaturitas saluran cerna).
5. Resiko gangguan integritas kulit b.d tipisnya jaringan kulit, imobilisasi.
6. Kecemasan orang tua b.d situasi krisis, kurang pengetahuan.

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
1. Tidak efektifnya pola nafas b.d imaturitas fungsi paru dn neuro muscular.
Tujuan : Pola nafas efektif .
Kriteria Hasil :
RR 30-60 x/mnt¨ Sianosis (-)¨ Sesak (-)¨ Ronchi (-)¨ Whezing (-).

Rencana Keperawatan
1) Observasi pola Nafas.
2) Observasi frekuensi dan bunyi nafas
3) Observasi adanya sianosis.
4) Monitor dengan teliti hasil pemeriksaan gas darah.
5) Tempatkan kepala pada posisi hiperekstensi.
Beri O2 sesuai program dokter
6) Observasi respon bayi terhadap ventilator dan terapi O2.
7) Atur ventilasi ruangan tempat perawatan klien.
8) Kolaborasi dengan tenaga medis lainnya.

2. Tidak efektifnya termoregulasi b.d imaturitas control dan pengatur suhu dan berkurangnya lemak subcutan didalam tubuh.
Tujuan : Suhu tubuh kembali normal.
Kriteria Hasil :¨ Suhu 36-37 C.¨ Kulit hangat.¨ Sianosis (-)¨ Ekstremitas hangat,

Rencana Keperawatan
1) Observasi tanda-tanda vital.
2) Tempatkan bayi pada incubator.
3) Awasi dan atur control temperature dalam incubator sesuai kebutuhan.
4) Monitor tanda-tanda Hipertermi.
5) Hindari bayi dari pengaruh yang dapat menurunkan suhu tubuh.
6) Ganti pakaian setiap basah.
7) Observasi adanya sianosis.

3. Resiko infeksi b.d defisiensi pertahanan tubuh (imunologi).
Tujuan : Infeksi tidak terjadi.
Kriteria Hasil :¨ Suhu 36-37 C¨ Tidak ada tanda-tanda infeksi.¨ Leukosit 5.000 - 10.000.
Rencana Keperawatan
1) Kaji tanda-tanda infeksi.
2) Isolasi bayi dengan bayi lain.
3) Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi.
4) Gunakan masker setiap kontak dengan bayi.
5) Cegah kontak dengan orang yang terinfeksi.
6) Pastikan semua perawatan yang kontak dengan bayi dalam keadaan bersih/steril.
7) Kolaborasi dengan dokter.
8) Berikan antibiotic sesuai program.

4. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d ketidakmampuan mencerna nutrisi (Imaturitas saluran cerna).
Tujuan : Nutrisi terpenuhi.
Kriteria hasil :¨ Reflek hisap dan menelan baik¨ Muntah (-)¨ Kembung (-)¨ BAB lancar¨ Berat badan meningkat 15 gr/hr¨ Turgor elastis.

Rencana Keperawatan
1) Observasi intake dan output.
2) Observasi reflek hisap dan menelan.
3) Beri minum sesuai .
4) Pasang NGT bila reflekprogram menghisap dan menelan tidak ada.
5) Monitor tanda-tanda intoleransi terhadap nutrisi parenteral.
6) Kaji kesiapan untuk pemberian nutrisi enteral
7) Kaji kesiapan ibu untuk menyusu.
8) Timbang BB setiap hari.

5. Resiko gangguan integritas kulit b.d tipisnya jaringan kulit, imobilisasi.
Tujuan : Gangguan integritas kulit tidak terjadi.
Kriteria hasil :¨ Suhu 36,5-37 C¨ Tidak ada lecet atau kemerahan pada kulit.¨ Tanda-tanda infeksi (-)

Rencana Keperawatan
1) Observasi vital sign.
2) Observasi tekstur dan warna kulit.
3) Lakukan tindakan secara aseptic dan antiseptic.
4) Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi.
5) Jaga kebersihan kulit bayi.
6) Ganti pakaian setiap basah.
7) Jaga kebersihan tempat tidur.
8) Lakukan mobilisasi tiap 2 jam.
9) Monitor suhu dalam incubator.
6. Kecemasan orang tua b.d kurang pengetahuan orang tua dan kondisi krisis.
Tujuan : Cemas berkurang
Kriteria hasil : Orang tua tampak tenang, Orang tua tidak bertanya-tanya lagi. Orang tua berpartisipasi dalam proses perawatan.

Rencana Keperawatan
1) Kaji tingkat pengetahuan orang tua
2) Beri penjelasan tentang keadaan bayinya.
3) Libatkan keluarga dalam perawatan bayinya.
4) Berikan support dan reinforcement atas apa yang dapat dicapai oleh orang tua.
5) Latih orang tua tentang cara-cara perawatan bayi dirumah sebelum bayi pulang.

askeP Jantung

0 komentar
ASKEP JANTUNG

PENGKAJIAN

Hal yang perlu dikaji
• Riwayat perkawinan, misalnya anak tersebut diinginkan atau tidak untuk mengetahui kemungkinan minum obat-obatan / ramuan untuk menggugurkan kandungan.
• Riwayat kehamilan, yaitu penyakit yang pernah diderita yang dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin spt hipertensi, DM, Rubella. Khususnya bila terserang pada trimester I.
• Penyakit keturunan.
• Merokok selama hamil.
• Apakah ayah atau ibu menderita penyakit kelamin misal syphilis.
• Sebelum hamil ikut KB atau tidak, KB yang pernah digunakan.
• Obat-obatan yang diminum selama hamil

Gejala yang timbul :
• Sesak nafas atau dispnea
• Palpitasi.
• Kehilangan kesadaran yang tiba-tiba akibat penurunan aliran darah ke otak
• Edema
• Cyanosis
• Bayi malas minum



1. Gangguan perfusi jaringan b.d penurunan cardiac output.
Tujuan: Gangguan perfusi jaringan teratasi dalam waktu 3×24 jam.
Kriteria hasil :
- RR 30-60 x/mnt
- Nadi 120-140 x/mnt.
- Suhu 36,5-37 C
- Sianosis (-), Ekstremitas hangat

1. Observasi frekwensi dan bunyi jantung
2. Observasi adanya sianosis.
3. Beri oksigen sesuai kebutuhan
4. Kaji kesadaran bayi
5. Observasi TTV.
6. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian therapy.

2. Inefektif pola nafas b.d akumulasi secret.
Tujuan: Pola nafas efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan 1×24 jam. Kriteria hasil :
- RR 30-60 x/mnt
- Sianosis (-)
- Sesak (-)
- Ronchi (-)
- Whezing (-)
1. Observasi pola nafas
2. Observasi frekuensi dan bunyi nafas
3. Tempatkan kepala pada posisi hiperekstensi
4. Observasi adanya sianosis.
5. Lakukan suction
6. Monitor dengan teliti hasil pemeriksaan gas darah.
7. Beri O2 sesuai program
8. Atur ventilasi ruangan tempat perawatan klien.
9. Observasi respon bayi terhadap ventilator dan terapi O2.
10. Kolaborasi dengan tenaga medis lainnya.

3. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d intake yang tidak adekuat.
Tujuan: Kebutuhan nutrisi terpenuhi setelah 3×24 Jam.
Kriteria hasil :
- Tidak terjadi penurunan BB>15%
- Muntah (-)
- Bayi dapat minum dengan baik.

1. Observasi intake dan output
2. Observasi reflek menghisap dan menelan bayi.
3. Kaji adanya sianosis pada saat bayi minum.
4. Pasang NGT bila diperlukan.
5. Beri nutrisi sesuai kebutuhan bayi
6. Timbang BB tiap hari.
7. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian therapy.
8. Kolaborasi dengan tim gizi untuk pemberian diit bayi.

4. Kecemasan ortu b.d kurang pengetahuan tentang kondisi bayinya.
Tujuan: Kecemasan berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 1×24 jam.
Kriteria hasil :
- Orang tua mengerti tujuan yang dilakukan dalam pengobatan therapy.
- Orangtua tampak tenang.
- Orang tua berpartisipasi dalam pengobatan.

1. Jelaskan tentang kondisi bayi.
2. Kolaborasi dengan dokter untuk memberikan penjelasan tentang penyakit dan tindakan yang akan dilakukan berkaitan dengan penyakit yang diderita bayi.
3. Libatkan orangtua dalam perawatan bayi.
4. Berikan support mental
5. Berikan reinforcement atas pengertian orangtua.

5. Resiko infeksi tali pusat b.d invasi kuman patogen.
Tujuan: Infeksi tali pusat tidak terjadi dalam waktu 3×24 jam.
Kriteria hail :
- Suhu 36-37 C
- Tali pusat kering dan tidak berbau.
- Tidak ada tanda – tanda infeksi pada tali pusat.
1. Lakukan tehnik aceptic dan antiseptic pada saat memotong tali pusat.
2. Jaga kebersihan daerah tali pusat dan sekitarnya.
3. Mandikan bayi dengan air bersih dan hangat.
4. Observasi adanya perdarahan pada tali pusat.
5. Cuci tali pusat dengan sabun dan segera keringkan bila tali pusat kotor atau terkena feses.
6. Observasi suhu bayi.


Selasa, Desember 23, 2008

asKep anak dgn DHF

0 komentar
Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan DHF

By Herlina,S.Kep


A. KONSEP DASAR

1. Pengertian

Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue Family Flaviviridae, dengan genusnya adalah Flavivirus. Virus mempunyai empat serotipe yang dikenal dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4.

Selama ini secara klinik mempunyai tingkatan manifestasi yang berbeda tergantung dari serotipe virus dengue. Morbiditas penyakit DBD menyebar di negara-negara tropis dan sub tropis. Disetiap negara penyakit DBD mempunyai manifestasi klinik yang berbeda.

2. Etiologi

a. Virus dengue sejenis arbovirus.

b. Virus dengue tergolong dalam family Flavividae dan dikenal ada 4 serotif, Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia ke II, sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953-1954.

Virus dengue berbentuk batang, bersifat termoragil, sensitif terhadap in aktivitas oleh diatiter dan natrium diaksikolat, stabil pada suhu 70 oC.

Keempat serotif tersebut telah di temukan pula di Indonesia dengan serotif ke 3 merupakan serotif yang paling banyak.

3. Patofisiologi

Patogenesis dan Patofisiologi,

patogenesis DBD tidak sepenuhnya dipahami namun terdapat 2 perubahan patofisiologi yang menyolok, yaitu meningkatnya permeabilitas kapiler yang mengakibatkan bocornya plasma, hipovolemia dan terjadinya syok.


Pada DBD terdapat kejadian unik yaitu terjadinya kebocoran plasma kedalam rongga pleura dan rongga peritoneal. Kebocoran plasma terjadi singkat (24-28 jam).

Hemostatis abnormal yang disebabkan oleh vaskulopati, trombositopeni dan koagulopati, mendahului terjadinya manifestasi perdarahan.

Aktivasi sistem komplemen selalu dijumpai pada pasien DBD kadar C3 dan C5 rendah, sedangkan C3a dan C5a meningkat. Mekanisme aktivasi komplemen tersebut belum diketahui. Adanya kompleks imun telah dilaporkan pada DBD. Namun demikian peran kompleks antigen-antibodi sebagai penyebab aktivasi komplemen pada DBD belum terbukti.

Selama ini diduga bahwa derajat keparahan penyakit DBD dibandingkan dengan DD dijelaskan adanya pemacuan dari multiplikasi virus di dalam makrofag oleh antibodi heterotipik sebagai akibat infesi dengue sebelumnya. Namun demikian terdapat bukti bahwa faktor virus serta responsimun cell-mediated terlibat juga dalam patogenesis DBD.

4. Tanda Dan Gejala

a. Demam tinggi selama 5 - 7 hari

b. Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi.

c. Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis, hematoma.

d. Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri.

e. Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati.

f. Sakit kepala.

g. Pembengkakan sekitar mata.

h. Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.

i. Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun, gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).

5. Komplikasi

Adapun komplikasi dari penyakit demam berdarah diantaranya :

a. Perdarahan luas.

b. Shock atau renjatan.

c. Effuse pleura

d. Penurunan kesadaran.

6. Klasifikasi

a. Derajat I :

Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turniket positi, trombositopeni dan hemokonsentrasi.

b. Derajat II :

Manifestasi klinik pada derajat I dengan manifestasi perdarahan spontan di bawah kulit seperti peteki, hematoma dan perdarahan dari lain tempat.

c. Derajat III :

Manifestasi klinik pada derajat II ditambah dengan ditemukan manifestasi kegagalan system sirkulasi berupa nadi yang cepat dan lemah, hipotensi dengan kulit yang lembab, dingin dan penderita gelisah.

d. Derajat IV :

Manifestasi klinik pada penderita derajat III ditambah dengan ditemukan manifestasi renjatan yang berat dengan ditandai tensi tak terukur dan nadi tak teraba.


Pemeriksaan penunjang

a. Darah

1) Trombosit menurun.

2) HB meningkat lebih 20 %

3) HT meningkat lebih 20 %

4) Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3

5) Protein darah rendah

6) Ureum PH bisa meningkat

7) NA dan CL rendah

b. Serology : HI (hemaglutination inhibition test).

c. Rontgen thorax : Efusi pleura.

d. Uji test tourniket (+)

Penatalaksanaan

a. Tirah baring

b. Pemberian makanan lunak .

c. Pemberian cairan melalui infus.

• Pemberian cairan intra vena (biasanya ringer lactat, nacl) ringer lactate merupakan cairan intra vena yang paling sering digunakan , mengandung Na + 130 mEq/liter , K+ 4 mEq/liter, korekter basa 28 mEq/liter , Cl 109 mEq/liter dan Ca = 3 mEq/liter.

d. Pemberian obat-obatan : antibiotic, antipiretik,

e. Anti konvulsi jika terjadi kejang

f. Monitor tanda-tanda vital ( T,S,N,RR).

g. Monitor adanya tanda-tanda renjatan

h. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut

i. Periksa HB,HT, dan Trombosit setiap hari.



B. ASUHAN KEPERAWATAN SECARA TEORITIS

1. Pengkajian

• Pengkajian merupakan tahap awal yang dilakukan perawat untuk mendapatkan data yang dibutuhkan sebelum melakukan asuhan keperawatan .

• pengkajian pada pasien dengan “DHF” dapat dilakukan dengan teknik wawancara, pengukuran, dan pemeriksaan fisik. Adapun tahapan-tahapannya meliputi :

a. Mengkaji data dasar, kebutuhan bio-psiko-sosial-spiritual pasien dari berbagai sumber (pasien, keluarga, rekam medik dan anggota tim kesehatan lainnya).

b. Mengidentifikasi sumber-sumber yang potensial dan tersedia untuk memenuhi kebutuhan pasien.

c. Kaji riwayat keperawatan.

d. Kaji adanya peningkatan suhu tubuh ,tanda-tanda perdarahan, mual, muntah, tidak nafsu makan, nyeri ulu hati, nyeri otot dan sendi, tanda-tanda syok (denyut nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin dan lembab terutama pada ekstrimitas, sianosis, gelisah, penurunan kesadaran).

2. Diagnosa keperawatan.

Penyusunan diagnosa keperawatan dilakukan setelah data didapatkan, kemudian dikelompokkan dan difokuskan sesuai dengan masalah yang timbul sebagai contoh diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kasus DHF diantaranya :

1. Gangguan volume cairan tubuh kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan , muntah dan demam.

Tujuan :

Gangguan volume cairan tubuh dapat teratasi

Kriteria hasil :

Volume cairan tubuh kembali normal

Intervensi :

1) Kaji KU dan kondisi pasien

2) Observasi tanda-tanda vital ( S,N,RR )

3) Observasi tanda-tanda dehidrasi

4) Observasi tetesan infus dan lokasi penusukan jarum infus

5) Balance cairan (input dan out put cairan)

6) Beri pasien dan anjurkan keluarga pasien untuk memberi minum banyak

7) Anjurkan keluarga pasien untuk mengganti pakaian pasien yang basah oleh keringat.

2. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.
Tujuan : Hipertermi dapat teratasi

Kriteria hasil : Suhu tubuh kembali normal

Intervensi

1) Observasi tanda-tanda vital terutama suhu tubuh

2) Berikan kompres dingin (air biasa) pada daerah dahi dan ketiak

3) Ganti pakaian yang telah basah oleh keringat

4) Anjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian yang dapat menyerap keringat seperti terbuat dari katun.

5) Anjurkan keluarga untuk memberikan minum banyak kurang lebih 1500 - 2000 cc per hari

6) kolaborasi dengan dokter dalam pemberian Therapi, obat penurun panas.

3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, tidak ada nafsu makan.

Tujuan : Gangguan pemenuhan nutrisi teratasi

Kriteria hasil : Intake nutrisi klien meningkat

Intervensi

1) Kaji intake nutrisi klien dan perubahan yang terjadi

2) Timbang berat badan klien tiap hari

3) Berikan klien makan dalam keadaan hangat dan dengan porsi sedikit tapi sering

4) Beri minum air hangat bila klien mengeluh mual

5) Lakukan pemeriksaan fisik Abdomen (auskultasi, perkusi, dan palpasi).

6) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian Therapi anti emetik.

7) Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet.

8) Berikan klien makan dalam keadaan hangat dan dengan porsi sedikit tapi sering

9) Beri minum air hangat bila klien mengeluh mual

10) Lakukan pemeriksaan fisik Abdomen (auskultasi, perkusi, dan palpasi).

11) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian Therapi anti emetik.

12) Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet.

4. Kurang pengetahuan keluarga tentang proses penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi

Tujuan : Pengetahuan keluarga tentang proses penyakit meningkat

Kriteria hasil : Klien mengerti tentang proses penyakit DHF

Intervensi

1) Kaji tingkat pendidikan klien.

2) Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang proses penyakit DHF

3) Jelaskan pada keluarga klien tentang proses penyakit DHF melalui Penkes.


4) beri kesempatan pada keluarga untuk bertanya yang belum dimengerti atau diketahuinya.

5) Libatkan keluarga dalam setiap tindakan yang dilakukan pada klien

5. Resiko terjadinya perdarahan berhubungan dengan trobositopenia.

Tujuan : Perdarahan tidak terjadi

Kriteria hasil : Trombosit dalam batas normal

Intervensi

1) Kaji adanya perdarahan

2) Observasi tanda-tanda vital (S.N.RR)

3) Antisipasi terjadinya perlukaan / perdarahan.

4) Anjurkan keluarga klien untuk lebih banyak mengistirahatkan klien

5) Monitor hasil darah, Trombosit

6) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi ,pemberian cairan intra vena.

6. Shock hipovolemik berhubungan dengan perdarahan

Tujuan : Shock hipovolemik dapat teratasi

Kriteria hasil : Volume cairan tubuh kembali normal, kesadaran compos mentis.

Intervensi

1) Observasi tingkat kesadaran klien

2) Observasi tanda-tanda vital (S, N, RR).

3) Observasi out put dan input cairan (balance cairan)

4) Kaji adanya tanda-tanda dehidrasi

5) kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi cairan.

3. Evaluasi.

Evaluasi adalah merupakan salah satu alat untuk mengukur suatu perlakuan atau tindakan keperawatan terhadap pasien. Dimana evaluasi ini meliputi evaluasi formatif / evaluasi proses yang dilihat dari setiap selesai melakukan implementasi yang dibuat setiap hari sedangkan evaluasi sumatif / evaluasi hasil dibuat sesuai dengan tujuan yang dibuat mengacu pada kriteria hasil yang diharapkan.

Evaluasi :

a. Suhu tubuh dalam batas normal.

b. Intake dan out put kembali normal / seimbang.

c. Pemenuhan nutrisi yang adekuat.

d. Perdarahan tidak terjadi / teratasi.

e. Pengetahuan keluarga bertambah.

f. Shock hopovolemik teratasi